Faedah Diam terhadap Hal yang Belum Diketahui

Abu Haidar As-Sundawy
Masjid Agung Cipaganti
Waktu Dhuha

Faidah diam terhadap hal yang belum diketahui.

1. Tawaquf terhadap hal yang tidak diketahui adalah wajib. Cukup katakan Laa afham atau wallahu a’lam,karena jika kita menjawab atau berbicara suatu hal yang belum kita ketahui secara pasti jika hal tersebut salah, akan menimbulkan dosa jariyah yang terus mengalir karena diamalkan oleh orang lain yang mendengar.

Al-Isra:36
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.”
Bahwa taqlid kepada orang berilmu lebih baik dibanding ijtihad sendiri dengan kebodohan.

H.R. Bukhari no. 98
“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari para hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama, sehingga ketika tidak tersisa lagi seorang alim, maka manusia akan menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin, lalu mereka ditanya, kemudian mereka akan memberikan fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat lagi menyesatkan orang lain.”

Salah satu fenomena yang terjadi saat ini dimana orang belajar pada yang bodoh sedangkan yang berilmu dihinakan.

2. Bila seorang ustadz berkata Wallahu a’lam karena dia tidak tahu, maka ilmu itu akan datang dengan segera. Apakah karrna dia segera mencari tahu trntang perkara tersebut, atau informasi tentang ilmu itu datang lebih cepat melalui petunjuk orang lain. Maka dari sini bisa dilihat bahwa faedah ke 2 dari tawaquf adalah motivasi belajar dan mencati tahu.

3. Faedah lain adalah menyadarkan seseorang bahwa dirinya masih kurang dalam hal belajar, masih ada yang belum dia ketahuihl hingga muncul pacuan untuk banyak membaca tentang berbagai pedoman ilmu tersebut.

4. Jika seseorang terbiasa menjawab Wallahu a’lam maka timbul kesan amanah dan dapat dipercaya, karena dia tidak menjawab suatu hal yang dia ragu atau belum dia ketahui maka saat dia menjawab atau berbicara suatu perkara maka sungguh perkataannya itu adalah pasti dan dia sendiripun meyakininya.

5. Sesungguhnya seorang mu’alim bila muta’alim melihatnya bertawaquf maka dia sedang mempraktekkan sesuatu yang berharga. Teaching by doing. Mengajarkan dengan praktek lebih ampuh daripada mengajarkan dengan perkataan. Seperti dulu di jaman Imam Ahmad, para muta’alim jarang ada yang mencatat saat majelis ta’lim atau saat belajar bersama beliau. Itu karena pada ulama jaman dulu dalam setiap amalannya, senyumnya, ekspresi, pakaian dsb adalah wujud nyata dari ilmu. Maka muta’alim lebih fokus melihat daripada mencatat.

💎 Munadhoroh adalah diskusi sesama penuntut ilmu dengan niat ikhlas mencari kebenaran, meningkatkan kemampuan berargumentasi, menguatkan ingatan dan memperoleh rahmat Allah. Pegangan dari munadhoroh adalah mengikuti dalil yang lebih rojih (lebih utama/unggul). Faedah dari munadhoroh ini adalah mengetahui kebenaran dan mengikuti kebenaran tersebut dan berikhtilaf hanya untuk memperoleh rahmat Allah.

💎Hud:118-119
ولا تزالون مختلفين
Dia jadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih (pendapat).
Kata مختلفين menggunakan isim fa’il yang menunjukkan tsabat atau tetap dan terus menerus maka memang sifat manusia itu terus menerus dan selalu ingin ikhtilaf dan berselisih pendapat. Namun di ayat 119 Allah berfirman,
“Kecuali orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka.”

Maka Imam Syatibi menyebutkan bahwa manusia terbagi dalam 2 golongan:
1. Ahlul ikhtilaf yaitu mereka yang berikhtilaf dengan cara yang memberi madhorot pada mereka sendiri. Mereka adalah orang yang:
– berikhtilaf tanpa ilmu dan muncul lah debat kusir
– berikhtilaf dengan niat yang buruk
– niat menonjolkan diri atau memojokkan orang lain
– terbawa emosi
– ta’asub (fanatik buta) seperti misal beradu argumen untuk menunjukkan bahwa pendapat dia dan ustadz nya yang paling baik.
2. Ahlul rahmah yaitu orang yang ketika ikhtilaf membawa manfaat bagi mereka sendiri, walau berbeda pendapat seperti 4 imam mahdzab yang punya pendapat sangat kontradiksi tapi satu sama lain sangat menghargai adab. Contohnya Imam Syafi’i (ustadz) dan Imam Ahmad (murid) mereka memiliki perbedaan pendapat dan sangat kontradiktif saat Imam Syafi’i berpendapat bahwa do’a qunut adalah sunnah, Imam Ahmad berpendapat qunut adalah bid’ah. Tapi bahkan Imam Ahmad jika berada di masjid tidak berani menyelonjorkan kakinya menghadap rumah Imam Syafi’i dan Imam Syafi’i pun menghargai pendapat Imam Ahmad. Pentingnya beradab. Ciri lain dari ahlul rahmah adalah:
– berikhtilaf disertai ilmu
– berikhtilaf disertai amal
Al-Hujarat:11-12
– tidak menggelari seseorang dengan gelar yang buruk.

💎Q: bagaimana jika ada yg bertanya, kita tahu jawabannya namun masih ragu. Cukup jawab wallahu a’lam saja atau beritahu juga jawaban yg kita ragu tsb.
A: ulama selalu mendahulukan wallahu a’lam lalu menjawab yang dia tahu.

💎Q: (out of topic) tentang suap biar masuk cpns apakah haram?
A: suap yang haram adalah suap yang mendzalimi dan mengambil hak pihak lain. Tapi jika suap untuk mendapatkan hak kita, itu boleh. Misal barang kita tertahan di suatu kantor urusan barang dan kita harus bayar uang agar barang tersebut bisa diambil. Itu boleh, kita tidak berdosa karena ridak ada pihak lain yang dirugikan.

Wallahu a’lam bishawab.

info kajian: @radiorodjabandung

Advertisements

Best Words ❤

Allah is the Light of the heavens and the earth. The example of His light is like a niche within which is a lamp, the lamp is within glass, the glass as if it were a pearly [white] star lit from [the oil of] a blessed olive tree, neither of the east nor of the west, whose oil would almost glow even if untouched by fire. Light upon light. Allah guides to His light whom He wills. And Allah presents examples for the people, and Allah is Knowing of all things.

An-Noor:35

You know those words are the best when you can feel word by word. The light of heedayah which has given to you by Ar-Rabb is exactly the most wonderful thing you can get and the most priceless experience you can through. You can’t buy it neither can ressist it. Oh Allah, please stay close to me, forever and always ❤

Fave thing from last Friday ta’lim. Last sentence of An-Nisaa: 132

And sufficient is Allah as Disposer of affairs.

 *first time making a calligraphy. Not bad, huh? 😁

 هذا الصباح

أستيقظ مبكرًا، أشرب القهوة باالحليب، أسمع مرتل الشيخ مشاري العفاسي، أذهب الى مجلس أدرس العربية، أنا سعيد الحمد الله رب العالمين ❤

This morning

I woke up early, drank coffee milk, listened to Syaikh Mishari Alafashy’s murrotal, went to majlis to study arabic language, i feel overjoyed, Alhamdulillah ❤

والله ما فى السموت والارض  وكفى بالله وكيلا

(An-Nisaa’:132)

Milik-Nya lah segala yang ada di langit dan di bumi. Zat yang pada 1/3 malam terakhir turun ke langit palinh rendah untuk mendengar segala doa dari mereka yang bangun dan terjaga di antara mereka yang tertidur. Maka inilah sebaik-baik waktu meminta. Dan zat yang tiada dua atau tiga, hanya Dia lah sebaik-baik tempat punggung bersandar, sebaik-baik asa berharap.

Gerimis dan lampu kamar yang temaram di penghujung malam meringkas waktu mustajab ini menjadi semakin singkat. Adakah telah aku sampaikan semua ingin dan harap ke atas langit? Berharap hujan esok malam membawa berkah dan satu pengabulan doaku malam ini. Apapun jawabannya Ya Rabb, asalkan Kau ridhai aku. Asalkan Kau memelukku dengan penuh rahmat.

Adapun semua penundaan doa yang belum ada jawabnya, semoga itu cara-Mu memberitahuku bahwa doaku adalah satu yang terbaik. Dan Kau tidak ingin agar aku berhenti mengucapkan-Nya. Jika benar, sungguh akan aku ucapkan doa itu lebih sering dua atau tiga kali. Dari yang sangat berharap, hingga asal terucap, aku sudah menyerahkan semua jawabannya. Sekali lagi, asal ridha dari-Mu aku dapat. 

💔

Dialah Ar-Rabb, yang mengatur peredaran matahari dan bulan, yang membuat batas di antara ketidakterbatasan semesta. Dan apa yang kamu minta tidaklah lebih besar dari hal itu. Tapi kamu masih menaruh kata ragu diujung pengharapan bait doa. Seakan lupa kalau Allah sudah berjanji “Mintalah KepadaKu, niscaya Aku kabulkan” (Al-Mukmin:60) dan selalu melewatkan bagian terpenting yang harus dilakukan setelahnya “Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah” (Az-Zumar:53)