Off We Go!

 

Surat Al-Ghasyiyah Ayat 17

Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan,

Surat Al-Ghasyiyah Ayat 18

Dan langit, bagaimana ia ditinggikan?

Surat Al-Ghasyiyah Ayat 19

Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan?

Surat Al-Ghasyiyah Ayat 20

Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?

Surat Al-Ghasyiyah Ayat 21

Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan.

Dalam kajian bersama Ustadz Subhan Bawazier, dikatakan bahwa ayat 18-21 ini menganjurkan kita untuk belajar di mana saja, tidak hanya di masjid. Untuk melihat rupa unta, kita harus ke luar dari rumah. Untuk tahu seberapa tegaknya gunung, kita harus mendakinya, dan untuk seberapa tingginya langit, kita harus pergi dari llindungan atap. Bagi orang-orang yang berpikir kapanpun dimanapun berada, setiap apa yang mereka lihat akan menjadi bahan untuknya belajar, mengingat kebesaran Allah, dan menyelami diri bahwa manusia itu kecil, sehebat apapun ciptaannya tidak akan menandingi ciptaanNya. Jadi, kapan kita mau kemana? 🙂

Advertisements

Between LOVE and TRUST

Memilih hidup bersama orang yang dicintai atau orang yang dipercaya? Itu kira-kira pertanyaan yang terlintas setiap usai berdo’a istikharah. Sampai aku belajar dari sosoknya, bahwa ada yang lebih tenang dari sibuknya cinta dan terlalu dalam untuk sekedar merasai riak rindu. Adalah percaya, dan kalaupun harus kutakar seberapa  besar rasa percaya ini, menaburkan pasir ke udara dan menghimpunya kembali akan lebih mudah aku lakukan. Kuasa Allah bisa membuat aku belajar dan melalui ujian keimanan paling berat untuk aku yang baru sekali belajar.

“Apabila kamu sekalian didatangi oleh seseorang yang agama dan akhlaknya kamu ridhai, maka nikahkanlah ia. Jika kamu sekalian tidak melaksanakannya maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.”

“Sesungguhnya hamba yang dicintai di sisi Allah adalah yang mencintai Allah lewat hamba-Nya dan mencintai hamba Allah karena Allah. Di muka bumi, ia pun memberi nasehat pada orang lain.” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 224).

Aku mencintai seseorang dengan ilmu dan aku membenci sesorang dengan ilmu. Aku menerima lamaran seseorang dengan ilmu dan aku menikah dengannya atas dasar ilmu juga.

 

 

Lemahnya Wanita

Wanita itu lemah akal dan agamanya. Ia adalah setengah dari persaksian lelaki (lemah akalnya), dan tidak sholat & puasa saat haid (kekurangan agamanya).

-Merespon ulah kelompok feminist yang mulai berani muncul ke permukaan.

For How Long?

For the sake of Allah and the deen, aku berusaha untuk melihat seseorang yang kupilih dari segi agamanya. Itu jaminan yang selalu kupegang erat. Berapa lama usia pernikahan yang akan ditempuh? Bisa jadi, sehari setelah menikah salah satu di antara kami kembali ke Rahmatullah. Dunia sementara, akhirat selamanya. Berapapun usia pernikahan, sehari, dua hari, sebulan, setahun, sepuluh tahun, yang aku mau kita selamanya di surga Allah, for good.

Pejuang Move On

Al-Lathiif 17.12.16 waktu dhuha

The Shift-Ladies Day

by Teh Haneen

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Move on, pergi dari apapun yang dibenci atau apapun yang tidak baik. Entah itu masalah cinta, akhlak, pekerjaan. Apapun. Memang butuh perjuangan untuk move on dari satu kondisi ke kondisi baru yang lebih baik. Kondisi baru yang lebih baik, tahu darimana?

Kita lihat yuk surat Ass-saffat :99

“Dan dia (Ibrahim) berkata, “Sesungguhnya aku harus pergi (menghadap) kepada Tuhanku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku”.

Bahwa segala urusan, hendaknya kita serahkan pada Allah Subhanahu wa ta’ala. Ia akan memberikan petunjuk ketika kita berjalan menghadap-Nya.

Hasbunallah Wa ni’mal wakiil, ni’mal maula wa ni’mannashir. Bahwa cukup bagiku Allah yang mengatur segala ketentuan hidupku. Allah adalah sebaik-baik penolong dari segala masalah dan beban hidupku. Kalimat hasbunallah wa ni’mal wakiil, ni’mal maula wa ni’mannashir adalah salah satu kalimat dzikir yang dianjurkan untuk dilantunkan dalam keadaan apapun.

Cerita tentang Khansa binti Amr, Ibunda para Syuhada. http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/11/07/12/lnnfl3-kisah-sahabat-nabi-khansa-binti-amr-ibunda-para-syuhada

Ia adalah sebaik-baik panutan wanita yang berjuang untuk move on dari kesedihan.

Ada 4 cara yang membuat perjuangan move on terasa lebih singkat dan manis:

  1. Back to Allah karena Allah adalah sebaik-baik tempat kembali.
  2. Nikmatilah sesi curhat, pada Allah atau sesama teman. Berlama-lama cerita dengan teman mungkin hanya mengurangi beban, tapi Allah adalah pemilik ketentuan dan pemegang takdir terbaik untuk kita. Berduaan di 1/3 malam akan membantu memalingkan hatimu yang sebelumnya untuknya, insya Allah akan berpaling untuk-Nya. “Yaa Allah, palingkanlah hatiku untuk selalu taat pada-Mu”.
  3. Dengarkan apa kata Allah. Curhat 2 arah bersama Rabb itu ada, bacalah Al-Qur’an dan kau akan tahu apa yang Allah katakana dan tunjukkan padamu apa tentang apa yang seharusnya dilakukan.
  4. Banyaklah bersyukur. Tentang makanan yang kau makan, udara yang kau hirup, orang tua yang tersenyum, rejeki yang berkecukupan. Tidakkah kau tetap hidup walaupun tanpa dia (siapapun atau apapun) di sampingmu? Allah telah berkehendak akan hal itu, maka bersyukurlah.

Last but not least, kita baca surat yang bikin jleb banget yaitu surat Ar-Ra’du:11

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum, sebelum mereka mengubah diri mereka sendiri. Jadi, ubah dulu dirimu sebelum meminta Allah merubah nasib atau kondisimu.

Nice words to end up this session. Semangat move on! Dari apapun yang membuatmu merasa berat untuk melangkah.

Nikmat Mana Lagi yang Akan Kau Dustakan

Ust. Subhan Bawazier

Masjid Agung Buah Batu

Ba’da dzuhur

 

4 hal yang membuat seseorang bosan beragama dan kalah dengan future (iman turun)

  1. Orang yang suka berpindah-pindah dalam hal beragama, terlalu roller coaster semangat dan emosinya.
  2. Berlebihan dalam menyikapi hal yang mubah.
  3. Contohnya saat akan sholat dia menunda sholatnya karena tidak membawa mukena, padahal pakaiannya sudah layak untuk sholat walau tanpa pakai mukena. Misal tentang mendatangi suatu kajian, jika kajian tersebut di Masjid dia mau datang, tapi saat kajian ilmu tersebut diadakan tidak di masjid (misal di alam, di gedung pertemuan, dsb) dia tidak mau karena merasa kurang afdhol, maunya di masjid aja. Padahal, dalam surat Al-Ghasiyyah : 17-20 dijelaskan perintah kita untuk keluar, memperhatikan ciptaan Allah dan menjadi ulul albab (orang yang berpikir). “Maka tidakkah mereka memerhatikan unta, bagaimana diciptakan? Dan langit, bagaimana ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ditegakkan?” untuk melihat ciptaan Allah ini kita harus keluar. Melihat unta kita harus ke gurun, melihat langit kita harus keluar dari naungan atap dan untuk melihat tegaknya gunung, hiking lah! Agar kita menjadi ulul albab, tapi tidak semua orang yang berpikir itu ulul albab. Kita harus berpikir dan mengembalikan semua renungan pada Allah.
  4. Enggan hidup berjamaah, ingin hidup sendiri.
  5. Minimnya ketaatan.
  6. Dalam surat Al-Ahzab : 35 diterangkan bahwa untuk mencapai taat itu butuh proses. Pertama Islam yang selanjutnya akan merasakan iman dan mencapai ketaatan hingga seseorang tersebut bisa dikatakan benar. Memperoleh ampunan dan pahala yang besar dari Allah.

Tambahan:

*Jika mendo’akan saudara kita sedang mereka tidak tahu, di amin kan doa kita oleh 70 malaikat

*Pahala menjawab adzannya seorang muadzin adalah sejauh jangkauang suara adzannya.

Info kajian:

instagram @usb.bawazier

Youtube: Aladzivie Channel